|
Istilah tersebut seringkali didengungkan oleh banyak orang. Untuk mendapatkan hasil maksimal, kita harus berani ambil risiko seberapapun beratnya. Bagi sebagian orang memang hal tersebut berlaku. Namun, apakah kita tidak ingin jika dengan risiko sekecil mungkin dengan hasil yang maksimal sebagaiman Prinsip Ekonomi dimana dengan pengeluaran sekecil-kecilnya mendapatkan hasil sebesar-besarnya.
Gerakan Pramuka adalah gerakan pendidikan nonformal di alam terbuka bersifat menarik dan menantang sesuai dengan perkembangan fisik dan psikis peserta didik. Layaknya kegiatan alam terbuka lainnya, Pramuka pun juga tak lepas dengan risiko. Dan risiko tersebut mulai dari yang skala ringan hingga yang bisa mengakibatkan kematian.
Nah, tentunya masih segar dalam ingatan kita sebuah berita duka yang menyelimuti keluarga besar Gerakan Pramuka di Indonesia beberapa hari setelah Raimuna Nasional 2008 ditutup. Ya..kak Pungkas Tri Baruno, salah satu anggota Tunas Indonesia meninggal dalam ekspedisinya ke G.McKinley, Alaska. Raimuna Nasional 2003 di Yogyakarta pun juga menelan korban jiwa saat sedang dilangsungkannya subkegiatan di Goa Cerme. Dalam tulisan ini, bukan maksud saya untuk menympulkan bahwa Raimuna Nasional selalu menelan korban jiwa. Juga saya tidak bermaksud mengungkit persiapan Tim Tunas Indonesia yang kurang matang dan menimbulkan korban jiwa (..bagiku, Merah Putih dan Tunas Kelapa telah berkibar di puncak McKinley sudah merupakan prestasi luar biasa walau harus ditebus dengan nyawa..). Saya hanya ingin memberikan opini tentang hubungan kegiatan Pramuka dengan risiko. Tentang bagaimana mengubah risiko yang tadinya merupakan hambatan dalam berkegiatan menjadi ajang untuk belajar.
Gerakan Pramuka seringkali menggunakan kegiatan di alam terbuka sebagai sarana pembelajaran untuk melatih kemandirian, kedisiplinan, kerjasama, meningkatkan tantangan dll. Metode ini tentu saja mengundang risiko luka, terkilir, bahkan kematian jika tidak diantisipasi sebelumnya. Di salah satu fase pembuatan Scout Project terbitan WOSM, Let’s Do Scout Project, disebutkan pada Fase ke2 : Integrasi Kesempatan Belajar tepatnya pada tahap Penilaian Tingkat Kesulitan, diperlukan analisa yang mendalam tentang kesulitan yang dihadapi termasuk risiko kegiatan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, risiko adalah akibat yg kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan. Untuk mengurangi risiko selama kegiatan, aktivis Pramuka hendaknya mampu untuk mengenali, mengurangi dan mengontrol risiko itu sendiri. Tentunya, jika peserta didik tidak merasa nyaman dalam kegiatan maka tujuan pendidikan tidak akan tercapai. Untuk itu, diperlukan pengetahuan tentang manajemen risiko dimana keselamatan menjadi tujuan utama. Menurut Brown (1995) dan TOLC (1996) ada 3 tahap dasar dalam manajemen risiko kegiatan di luar ruangan:
1. Identifikasi Risiko
Identifikasi risiko meliputi identifikasi terhadap segala sesuatu yang menimbulkan ancaman atau bahaya yang bisa menimbulkan atau menyebabkan kecelakaan. Tiga faktor utama dalam identifikasi risiko kegiatan di luar ruangan adalah peserta, perlengkapan dan lingkungan. Misalnya, kegiatan panjat tebing dan abseiling, berikut contoh tabel yang diperlukan
2. Pengenalan Risiko
Pengenalan risiko menitikberatkan pada penentuan tingkat risiko. Penentuan tingkat risiko dipengaruhi oleh jumlah risiko dan kemungkinan terjadinya kecelakaan.
3. Pengurangan Risiko
Strategi untuk mengurangi risiko kegiatan di luar ruangan meliputi :
a. Pembuatan kebijakan keselamatan dan aturan main yang jelas
b. Menjelaskan risiko kepada peserta
c. Memahami peserta
d. Pelatihan staf untuk membantu kelancaran materi
e. Pemilihan, pengawasan dan perawatan perlengkapan
Setelah melakukan tahap2 di atas, baru kemudian dibuat strategi manajemen risiko. Tabel berikut mungkin bisa membantu penyusunan manajemen risiko untuk kegiatan di alam terbuka.
Jadi apakah anda masih menganut paham “No Pain No Gain” atau sudah berganti “No Pain High Gain”..??? anda sendiri yang memutuskan.
by : gasepu Referensi : Parkin, D., Blades, G (1998) “Risk Management and Outdoor Management : a practical approach to ensuring positive outcome”, Outdoor Educator’s Association of Queensland’s Journal of HORIZONS, n66, p10-15
WOSM (2000) “Let’s Do Scout Project”, World Scout Beaureau, Geneva.
|
Leave Comment